Putra Bawean

Nurul Anwar Zakariya_* ‎زكريا‎ نور الأنوار‎

PKNU Vs PKB Pemilu 2009 Tuesday,April 14, 2009

Filed under: Pemilu — nuanza @ 12:05 am
Tags:

Pertarungan menarik antara partai lama dengan parpol baru yang memiliki ikatan sejarah menarik pula untuk disimak. Tak terkecuali head to head PKNU Vs PKB, terutama di Jawa Timur. Sejumlah pengamat pun memastikan konflik akut PKB membuat massanya memilih hijrah ke partai lain: PKNU.

SEJARAH membuktikan bara konflik PKB seolah tidak kunjung padam. Hingga hari H pencontrengan Kamis 9 April hari ini, PKB masih terbelah antara kubu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan keponakannya Muhaimin Iskandar alias Imin. Dan inilah episode ketiga konflik tersebut di mana dalam setiap episode perolehan suara partai ini selalu anjlok.

Simak saja pada Pemilu 1999, partai ini memperoleh 13.336.982 suara pemilih. Hasil itu menempatkan PKB pada urutan tiga besar dalam perolehan suara. Namun pada Pemilu 2004 hanya memperoleh 11.989.564 suara. Jadi terdapat penurunan sebesar 1.347.418 pemilih atau sekitar 2%.

Penurunan tersebut jelas akibat konflik PKB part one. Yakni konflik dengan Matori Abdul Djalil yang dianggap pengkhianat lalu dipecat sebagai ketua umum. Matori melakukan perlawanan politik dan hukum. Setelah dinyatakan kalah melalui proses pengadilan, Matori mendirikan Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Meski gagal menjadi peserta Pemilu 2004, PKD yang juga dihuni mantan para pengurus PKB mampu membuat 2% suara PKB rontok.

Perlu diingat, suara PKB masih tetap bertahan karena mainstream partai masih utuh mendukung PKB yakni Gus Dur, para kiai sepuh dan beberapa fungsionaris PBNU. Mereka masih setia di belakang PKB. Tidak heran bila PKB suaranya tidak berkurang secara signifikan.

Hal itu justru menjadikan politisi PKB “jumawa”, antara lain dengan menyebut PKB sebagai partai shahdatulkafi. Artinya para pengurusnya tidur saja perolehan suaranya tetap. Padahal tidak ada perolehan suara yang didapat tanpa kerja keras. Sumbangan suara terbesar yang didapat dari Jawa Timur jelas hasil kerja keras para pengurus DPW PKB Jatim, waktu itu, Choirul Anam (Cak Anam) dan kawan-kawan. Bukan dari hasil tidur bermimpi indah.

Kondisi saat ini sudah jauh berbeda. Pilar-pilar utama PKB sudah rontok. Belum lagi ada gerakan penggembosan yang dilakukan putri Gus Dur Yenny Wahid dan Gus Dur sendiri, sehingga diprediksi perolehan suara PKB bakal merosot tajam. PKB kini hanya mengandalkan para politisi muda yang bermodalkan semangat dan optimisme belaka.

Partai Besar
Bagaimana dengan PKNU? Memang hingga saat ini keberadaan PKNU masih diragukan. Persis ketika banyak orang meragukan PKNU bakal lolos menjadi peserta Pemilu. Namun nyatanya, PKNU mampu membalikkan keraguan masyarakat itu. Lolos verifikasi dengan mudah dan melenggang menjadi peserta Pemilu.

Begitu pula dengan hasil Pemilu. Banyak orang meragukan PKNU menuai hasil bagus. Ya, karena diragukan itu justru membuat para kader PKNU tertantang untuk membuktikan bahwa PKNU bisa unjuk kekuatan pada Pemilu. Setidaknya masuk jajaran partai menengah.

Sekretaris Dewan Syura DPP PKNU Alwi Shihab yakin perolehan suara PKNU bakal memutarbalikkan hasil survei. Sebab, PKNU memiliki jaringan kuat, seperti jaringan alumni pondok-pondok pesantren, yang kiainya menjadi deklarator PKNU.

“Kami punya basis massa yang kuat. Dari perjalanan saya turun ke daerah-daerah PKNU mendapat respon positif. Karena itu, saya yakin PKNU akan membalikkan prediksi para pengamat,” kata Alwi Shihab.

Memang selama ini lembaga survei masih memandang sebelah mata kepada PKNU. Survei-survei masih menempatkan PKNU di bawah 2,5 persen. Sekjen DPP PKNU H Idham Cholied tidak ambil pusing atas hasil survey itu.

“Hasil survei itu masih bisa berubah-ubah. Hasil survei berbeda dengan hasil penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan setelah pemilihan dengan mengambil sampel dari sejumlah tempat pemungutan suara,” katanya.

Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi sendiri meyakini bahwa PKNU akan menjadi partai besar. Sebab PKNU mempunyai empat kekuatan yang tidak dimiliki oleh partai-partai lain. “Empat kekuatan ini kalau dimaksimalkan akan menjadi kekuatan luar biasa,” ujar Kiai Hasyim Muzadi.

Kiai Hasyim mengatakan, kekuatan pertama adalah adanya sejumlah ulama yang bergabung dalam PKNU, yang tidak dimiliki oleh partai lain. Kekuatan kedua, ujar Hasyim, adalah keberadaan Rais Dewan Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, yang juga pengurus PBNU.

“Kiai Ma’ruf Amin bukan tokoh biasa, Beliau tokoh yang mampu merumuskan syariat untuk kepentingan umat. Beliau mempunyai keahlian dalam melaksanakan syariat menjadi amaliah”, katanya. Kekuatan ketiga, lanjut Hasyim, adalah keberadaan Prof Dr Alwi Shihab, doktor alumni Harvard University dan Al Azhar University. “Pak Alwi merupakan tokoh yang mampu membangun jaringan internasional. Sebentar lagi akan masuk 70 doktor dari luar negeri yang masuk ke jamaah NU,” katanya. Keempat, ujar Hasyim, adalah sosok Ketua Umum DPP PKNU, Drs H Choirul Anam. “Cak Anam adalah “tukang berkelahi” di NU. Seorang pekerja lapangan,” katanya.

Kiai Hasyim mengatakan, dalam tubuh PKNU ada ulama kharismatik, ulama transformatif, ulama berwawasan nasional dan pekerja lapangan. “Kalau mereka aktif dan produktif pada bidangnya masing-masing akan menjadi kekuatan luar biasa,” katanya. (dutamasyarakat.com)

source: langitan.net

Advertisements