Putra Bawean

Nurul Anwar Zakariya_* ‎زكريا‎ نور الأنوار‎

Pesantren di Indonesia "Pondok Pesantren" Monday,May 11, 2009

Filed under: Pesantren,Pesantren di Indonesia — nuanza @ 6:01 am

Pesantren, merupakan lembaga pendidikan keislaman tertua di Indonesia.
Pesantren berdiri secara mandiri, biasanya didirikan oleh seorang kyai yang peduli pada masyarakat sekitarnya. Awalnya hanya beberapa orang santri. Lambat laun santrinya bertambah banyak hingga dibuatlah tempat menginap, pondokan.
Dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga tahun demi tahun seorang kyai mengabdikan diri untuk mengajarkan ilmu yang diketahuinya. Tujuannya hanyalah li i’la‘i kalimatillah, mengusung kalimat Tuhan. Di sini kyai mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dan menanamkan semangat wirausaha (entrepreneurship). Dalam mengajar, seorang kyai tidak memungut bayaran, alias gratis. Seorang kyai ikhlas tanpa dibayar, bahkan mendirikan pesantren pun dengan biaya sendiri.
Lazimnya, pesantren khusus mengajarkan ilmu-ilmu dan wawasan keislaman, dengan model khas pesantren, sorogan. Kurun berjalannya pesantren yang juga berkomunikasi dengan zaman, perlahan tapi pasti pesantren mengajarkan ilmu-ilmu umum termasuk penambahan model pendidikannya, sistem kelas.

Biasanya, seorang kyai mendirikan pesantren di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat yang dipilih pun adalah masyarakat bawah yang baik secara ekonomi maupun pengetahuan tergolong rendah. Tujuannya tidak lain untuk mendidik sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
Karena berada di tengah-tengah masyarakat, seorang kyai pada khususnya dan para ustadz pada umumnya, tidak hanyut dalam hiruk-pikuk wacana maupun gerakan yang bersifat nasional, apalagi global! Mereka terfokus memikirkan masyarakatnya, yang umumnya dalam hal ini lebih fokus pada dunia pendidikan. Wacana dan gerakan nasional, bagi pesantren hanya menjadi titik-pijak pendalaman materi yang diajarkan. Lagi-lagi, muaranya pun pendidikan, tidak pada aksi praksis. Di sinilah yang kemudian mengesankan kalau pesantren itu eksklusif.

Menilik hal demikian: keikhlasan kyai, fokus pada peningkatan taraf hidup masyarakat, terlebih fokus dalam dunia pendidikan; mungkinkah pesantren mengajarkan kekerasan apalagi terorisme? Lalu bagaimana bisa ada satu-dua orang lulusan pesantren yang ikut dalam aksi kekerasan dan pengeboman? Layakkah ada penertiban kurikulum pesantren? Ini harus ditelisik oleh kita semua, khususnya masyarakat pesantren, secara jernih dan arif.
Kemandirian pesantren harus tetap kita jaga. Juga keikhlasannya. Di zaman ini, mencari pendidikan yang murah yang bisa diakses masyarakat bawah, sudah sangat sulit. Kalau kemandirian dan keikhlasan pesantren pupus, apalagi yang bisa diharapkan bangsa ini?

source: wasfal.wordpress.com

 

Sejarah Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur Tuesday,April 21, 2009

Filed under: Pesantren — nuanza @ 10:14 pm

Kunjungan Peserta ICIS ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur 27 Februari 2004

Adalah seorang pemuda perantau dari Cirebon Jawa Barat yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sidogiri, ketika masih berupa hutan belantara, 258 tahun yang silam.

Pemuda itu bernama Sulaiman, putra pertama pasangan Sayyid Abdurrahman bin Umar ba Syaiban dan Syarifah Khadijah binti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Konon, selama 40 hari Mbah Sayyid (nama akrab Sayyid Sulaiman) berperang melawan jin dan para dedemit. Ditemani salah seorang santrinya, Aminulloh, asal pulau Bawean, beliau akhirnya sukses mendirikan sebuah pesantren kecil yang diberi nama Sidogiri.

Ada dua versi tentang tahun sejarah berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam suatu catatan yang ditulis oleh panca warga (Bani KH. Nawawie bin Nur Hasan) dan ditandatangani oleh al-Maghfurlah KH. Nurhasan Nawawie, KH. Cholil Nawawie dan KA. Sa’doellah Nawawie tertanggal 29 Oktober 1963, disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri mulai berdiri pada tahun 1718. Dengan demikian, saat ini usia Pondok Pesantren Sidogiri telah berusia 285 tahun. Tapi, dalam surat yang lain (1971) yang ditandatangani oleh al-Marhum KA.Sa’doellah Nawawie tertulis, bahwa tahun tersebut merupakan hari ulang tahun PPS yang ke 226, berarti Pondok Pesantren Sidogiri (versi terakhir) berdiri pada tahun 1745. Dan, versi terakhir inilah yang dibuat standart peringatan hari jadi/ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri. Tahun 2003 adalah hari jadi PPS yang ke 258.

Menurut penjelasan dari Syaikhina al-Karim al-Maghfurlah KH. Hasani bin Nawawie bin Noerhasan, bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan atas dasar taqwallah seperti halnya masjid di-ta’sis. Allah SWT berfirman ;

“Sesungguhnya masjid itu dibangun atas dasar taqwa”

Dengan landasan dan asas itulah, maka Pondok Pesantren Sidogiri sebagi salah satu ma’had Islam ala ahli sunnah wal jama’ah yang berdiri di muka bumi ini merasa punya tanggung jawab yang besar dalam upaya melestarikan dan mengabadikan ajaran-ajaran Islam di persada bumi, dengan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada santri agar kelak menjadi khaira ummah.

Pada tanggal 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1938, KH. Abd. Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri saat itu, mendirikan madrasah yang diberi nama Madrasah Miftahul Ulum ( MMU ). Setelah KH.Abd Djalil wafat pada tahun 1947, Pondok Pesantren Sidogiri diasuh oleh KH. Kholil Nawawie. Pada saat itulah, dibentuk suatu wadah permusyawaratan yang diberi nama Pancawarga. Anggotanya adalah lima orang putera KH.Nawawie bin Noer Hasan, yaitu; 1) KH.Noer Hasan (wafat 1967), 2) KH.Kholil (wafat 1978), 3) KH.Siradjul-Millah Waddin (wafat 1988), 4) KA.Sa’doellah (wafat 1972) dan 5) KH. Hasani (wafat 2001). Di dalam statement-nya, kelima putera KH. Nawawie ini merasa berkewajiban untuk melestarikan keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri dan merasa bertanggung-jawab untuk mempertahankan asas dan ideologi Pondok Pesantren Sidogiri.

Kemudian setelah sebagian besar anggota Pancawarga sudah wafat yakni setelah wafatnya tiga dari anggota Pancawarga, maka KH.Siradjul-Millah Waddin mempunyai gagasan untuk membentuk wadah baru. Maka dibentuklah organisasi pengganti yang diberi nama Majelis Keluarga dengan anggota terdiri dari cucu-cucu laki-laki dari KH.Nawawie bin Noer Hasan.

source: cahaya-islam.com

 

Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jatim Thursday,April 16, 2009

Filed under: Pesantren — nuanza @ 6:11 pm

Sebelum pondok pesantren (ponpes) di tanah air marak mengajarkan wirausaha kepada para santrinya, Ponpes Sidogiri Pasuruan Jatim sudah lama mendahului. Lembaga tersebut memulai pelajaran wirausaha pada pertengahan 1961. Laboratorium prakteknya barulah berupa kedai dan toko kelontong.

Kala itu, praktik yang diselenggarakan masih sederhana. Ponpes Sidogiri hanya membuka kedai yang menyediakan nasi dan penganan ringan untuk memenuhi kebutuhan santri sendiri. Berkat ketelatenan dan kehematan pengurus, selisih untung dari membuka kedai kemudian dikembangkan dengan usaha lain; mendirikan toko kelontong yang berjualan sembako dan kebutuhan rumah tangga. Semula hanya terbatas bagi lingkungan pesantren, namun kemudian mendirikan toko buku dan toko bangunan di sejumlah pasar di Pasuruan.

Ponpes ini dipimpin oleh KH Mahmud Ali Zain dengan motto usaha ‘dari santri untuk santri’.

Kini, Pesantren Sidogiri memiliki sedikitnya 10 unit usaha yakni kantin, toko kelontong (menjual sembako), toko buku, toko alat-lat rumah tangga, kosmetik, toko bangunan, mini market, wartel, pertanian, BMT, pembuatan sarung dan baju muslim. Kecuali itu masih ada usaha percetakan kitab, hadis, buku tulis, dan undangan.

Bahkan dalam setahun terakhir, pesantren ini juga memproduksi kue dan air kemasan. Semua olah tangan santri pesantren Sidogiri ini diberi merek ‘Santri’.

Air kemasan merupakan produk terbaru, hasil kerja bareng dengan PT Alamo, sebuah perusahaan air kemasan di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo. Produk air kemasan santri Pesantren Sidogiri mampu bersaing dengan produk lain di pasaran.

Produksinya per bulan mencapai 25 ribu pak (1.000.000 gelas). Selain dalam kemasan gelas, pesantren juga membuat ukuran botol dengan kapasitas 700 mililieter dan 1.500 mililiter.

Pada tahun ini usaha yang dikelola Pesantren Sidogiri sudah mencapai sekitar Rp 15 miliar. Omset ini masih terhitung dari sektor usaha saja, belum termasuk BMT. Disebutkan, semua usaha pesantren yang sudah beromset miliaran rupiah itu tanpa melibatkan tenaga profesional dari luar.

Kini usaha pesantren melebar keluar bahkan merambah hampir tiap kecamatan di ‘kota santri’ Pasuruan. Pendirian pertokoan dan mini market, misalnya, berada di Desa Gebyang dan Rembang, jauh dari lokasi pesantren.

Usaha yang berada di dalam pesantren berupa percetakan juga tetap dicari masyarakat.

Sistem pemasaran yang dilakukan melalui pasar umum atau jaringan antar pesantren. Yang pertama digunakan khusus untuk barang kebutuhan umum. Sedangkan jaringan antar pesantren dibuka untuk keperluan santri, seperti kitab, buku, sarung, baju muslim, dan kopiah.

Buah karya Pesantren Sidogiri sudah dikenakan para santri di Jatim, Jateng, dan Jabar. Bahkan, barang kebutuhan santri dilempar juga ke Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kalimantan. Sekarang ini, santri Ponpes Sidogiri membuat usaha lain yakni saus tomat botolan. Masih menggunakan nama ‘Santri’, hasil kerja sama dengan PT Bogasari ini memanfaatkan tomat yang ditanam santri dan petani di sekitar pesantren.

Pembuatan saos tomat menggunakan teknologi sederhana. Santri Sidogiri memodifikasi bor besi dan memasang plat sebagai pengganti mixer. Alat itulah yang digunakan untuk melumat ratusan ton tomat segar untuk diolah jadi saos.

Benih yang dimulai puluhan tahun silam kini mulai dipetik buahnya. Lantaran modal awalnya dari santri, maka keuntungan pun diperuntukkan bagi santri dalam berbagai bentuk.

Segitiga Emas Pesantren

Menurut catatan sementara yang ditandatangani KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KH Sa’dollah Nawawie, Ponpes Sidogiri didirikan pada 1718 M. Pada 1938, pengasuh membuka madrasah Miftahul Ulum untuk tingkat sifir dan ibtidaiyah. Kemudian dilanjutkan dengan program Tsanawiyah (setingkat SMP) pada 1957 dan baru pada 1982 membuka tingkat Aliyah (SMU).

Pada awalnya, jumlah santri bisa dihitung dengan jari. Namun kini, Sidogiri memiliki sekitar 10.000 santri yang terdiri dari 6.500 santri putra dan 3.500 santri putri.

Citra pondok salaf tetap dipertahankan kendati sektor usahanya sudah maju.

Sidogiri sendiri dikenal sebagai ‘Segitiga Emas’ pesantren Jatim. Julukan itu melekat untuk Pesantren Tebu Ireng Jombang, Sidogiri Pasuruan, dan Pesantren Bangkalan, Madura. Putra kyai atau santri yang ingin memperdalam agama secara serius pasti menyinggahi tiga pondok ini.

Di tempat ini, santri hanya dikenakan biaya Rp 150 ribu per tahun. Kebutuhan pengajaran ditutup dari hasil usaha pesantren.

Setelah kemajuan yang dicapai, Pesantren Sidogiri sering didatangi lembaga perbankan untuk memberi modal selain kerja sama. Tapi hal itu ditolak, karena Ponpes ingin mengembangkan ekonomi syariah.

Bank syariah di daerah ‘tapal kuda’, sebutan daerah Pasuruan ini, akan memperkuat basis ekonomi masyarakat. Karena itu, pihak berwenang Ponpes mengaku tengah mengurus izin bank syariah di Bank Indonesia.

Selain mengurus izin bank syariah, pihak Ponpes juga tengah mengurus izin pendirian SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).

Semenjak memiliki beragam usaha yang tumbuh dengan sehat, tidak hanya lembaga perbankan saja yang datang ingin mengajak kerjasama tapi juga pengusaha lain. Sebatas menguntungkan santri, dan tidak melanggar azas ekonomi syariah siapa saja Ponpes terima untuk kerjasama.

source: al-shia.org

 

KH. Mahmud Ali Zein: Pesantren Sidogiri Siap Jadi Laboratorium Koperasi Syariah

Filed under: Ekonomi SYARI'AH,Pesantren — nuanza @ 6:05 pm
Jakarta, 12/03) Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM
telah menargetkan penguatan usaha di sektor kecil dan
menengah dengan cara memberikan bantuan dana bergulir
kepada Koperasi Pola Syariah. Tepatnya, mulai tahun
2006, Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah, Suryadharma Ali, telah mengeluarkan
peraturan No. 10/Per/M.KUKM/VI/2006 tentang Petunjuk
Teknis Program Pembiayaan Koperasi dan Usaha Mikro
(P3KUM) Pola Syariah.

Merespon program pemerintah tersebut, KH. Mahmud Ali
Zein, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan,
menyampaikan taushiah-nya kepada umat Islam Indonesia
melalui pkesinteraktif. “Pesantren Sidogiri siap
menjadi laboratorium untuk pelaksanaan koperasi pola
syariah”, ujar Kyai Mahmud yang saat ini juga menjadi
anggota DPD dari Jawa Timur.

Lebih lanjut Kyai Mahmud menuturkan, “Silahkan saja
nyantri praktek koperasi syariah ke Pesantren
Sidogiri”. Saat ini, di Pondok Pesantren Sidogiri
telah beroperasi Koperasi Syariah dalam wujud BMT
Maslahah Mursalah lil Ummah (MMU). BMT ini telah
mempunyai jaringan hampir di seluruh kota di Propinsi
Jawa Timur bagian Timur.

“Awalnya, BMT MMU berdiri pada tahun 1997 hanya
bermodalkan 13,5 Juta”, tandas Kyai Mahmud. Pada awal
tahun 2007 dana yang terhimpun sudah mencapai lebih
dari 14 Milliar. Sedangkan pembiayaan yang telah
disalurkan telah mencapai 13,5 Milliar. Prestasi yang
luar biasa.

Sumber: pkesinteraktif.com

 

Pondok Pesantren Sidogiri

Filed under: Pesantren — nuanza @ 5:57 pm

Belum lama ada sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: ”Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)”
Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.